Headset VR Ini Dapat Mendiagnosa Cedera Pada Otak

Virtual Reality dapat membantu dalam mendiagnosis sesuatu yang sulit dipahami seperti gegar otak.

SyncThink, yang mengembangkan teknologi pelacakan mata untuk headset VR, mengatakan bahwa perangkat Eye-Sync-nya dapat menunjukkan gejala cedera kepala di bawah satu menit. Pada hari Rabu, pihaknya mengumumkan bahwa mereka bermitra dengan database perusahaan Couchbase untuk mengaktifkan kemampuan offline Eye-Sync.

Cedera otak membahayakan kemampuan seseorang untuk memprediksi informasi yang masuk dan dapat menurunkan kewaspadaan. Untuk memeriksa kemungkinan cedera, dilakukan uji coba terhadap pemain sepak bola yang memasuki bangku cadangan, korban kecelakaan, atau seorang tentara yang terkena pukulan saat berlatih dikenakan headset Eye-Sync – Samsung Gear VR yang sudah dimodifikasi, dilengkapi dengan Samsung Galaxy S7 – dan dan diperintahkan untuk memperhatikan titik merah yang bergerak dalam lingkaran.

Perangkat kemudian mengukur gerak matanya dan menandai seberapa baik sinkronisasi dengan target yang bergerak. Seorang dokter menggunakan Galaxy Tab S2 untuk memantau pengguna selama penilaian dan menerima analisis otomatis. Jika gerakan mata seseorang tidak sinkron, itu bisa mengindikasikan gangguan motorik okular, komponen gegar otak yang umum.

Teknologi VR dapat memberikan kejelasan untuk mengidentifikasi gegar otak, yang biasanya sulit terlihat karena mungkin tidak ada tanda-tanda cedera atau gejala yang jelas. Misalnya, seseorang dengan gegar otak tidak lantas pingsan.

Oculogica adalah perusahaan lain yang mengembangkan teknologi eyes-tracking (pelacakan mata) untuk mendeteksi cedera otak, meskipun perangkat EyeBox-nya belum menerima izin FDA. Namun Eye-Sync mendapat izin dari FDA pada tahun 2016.

Perangkat SyncThink dapat berfungsi dengan atau tanpa koneksi jaringan, namun kemampuan offline yang menyertai kemitraan Couchbase memungkinkan pengguna menjalankan tes, memperoleh hasilnya, kemudian secara otomatis menyelaraskan data baru dengan server saat konektivitas meningkat. Skenario yang sama bisa melibatkan seorang atlet atletik yang mengumpulkan data dan mengaturnya secara remote dengan dokter tim.

Kebutuhan akan solusi yang lebih baik untuk mengidentifikasi cedera otak sangat tinggi. Hampir 50.000 orang meninggal akibat cedera trauma otak pada tahun 2013, laporan Centers for Disease Control, dan cedera otak traumatis telah diagnosis di lebih dari 282.000 pasien rawat inap dan 2,5 juta pengunjung di gawat darurat.

Ahli saraf olah raga Frank Conidi mengatakan tes VR seperti yang digunakan dalam Eye-Sync harus selalu dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan fisik dan neurologis, dan mengutamakan analisis keseimbangan dan pergerakan mata pasien, dibanding yang lainnya.

“Perangkat ini berguna sebagai add-on, terutama pada individu yang tidak memiliki pelatihan lanjutan – seperti gelar medis atau atletik – untuk membantu dalam diagnosis gegar otak,” kata Conidi, yang juga merupakan CEO dari Seeing Stars Foundation, lembaga nonprofit yang mendukung penelitian tentang gegar otak terkait olahraga dan cedera neurologis. “Orang juga perlu berhati-hati, dan perusahaan perlu berhati-hati, jangan sampai terlalu banyak berdebat terlalu banyak, karena tidak ada yang sempurna.”

Beeler mengatakan bahwa Eye-Sync memang memerlukan pengawasan dokter untuk melakukan evaluasi yang tepat.

“Kami tidak menggantikan peran dokter,” katanya. “Mereka memiliki komponen yang sangat penting untuk ini, namun kami menyediakan alat yang obyektif agar mereka dapat melakukan penilaian yang lebih baik.”

Sebelum menjual produknya, SyncThink menegaskan bahwa pembeli adalah seorang dokter atau di bawah arahan seorang dokter.

Cedera otak traumatis menjadi perhatian para atlet. NFL, misalnya, menghadapi pemeriksaan ketat mengenai tingkat cedera gegar otak tinggi dan bukti yang menghubungkan cedera otak akibat bermain CTE, penyakit otak degeneratif.

NBA mungkin juga melihat manfaat VR dalam menganalisa kesehatan otak. Golden State Warriors adalah tim pro terbaru yang mengadopsi Eye-Sync.

Teknologi ini juga diluncurkan dalam program atletik perguruan tinggi di berbagai tempat seperti Stanford University, University of Texas dan Iowa State University.

Ravi Mayuram, wakil presiden senior produk dan teknik di Couchbase, mengatakan bahwa kemitraan dengan SyncThink merupakan indikasi adanya tren dalam perawatan kesehatan.

By | 2018-01-05T04:06:32+00:00 October 27th, 2017|Articles|