Menyikapi tuntutan yang diterimanya karena membiarkan berita palsu untuk beredar di halamannya, facebook (FB) akhirnya mulai mengumumkan fitur yang dapat mengembalikan kepercayaan para penggunanya. Tools ini akan mengelilingi berita-berita yang dipertanyakan kebenarannya dengan berita yang berhubungan namun dari perspektif yang berbeda, strategi ini bertujuan untuk membantu memberikan informasi kebenaran berita tersebut kepada pembaca. Pada musim semi kemarin Facebook mulai melakukan uji coba terhadap salah satu article yang menyebarkan berita tidak sedap, ternyata pada akhirnya bisa terungkap bahwa berita tersebut adalah hoax. Facebook juga telah mengupdate teknologi machine learningnya untuk menandai berita yang berpotensi hoax dan mengirimkannya langsung ke pihak ketiga yang memeriksa kebenaran dibalik berita tersebut. Mengikuti review, cerita tambahan yang menunjukan article terkait juga bisa saja diposting dibawah postingan sebelumnya.

Pada waktu pemilihan presiden di Amerika Serikan tahun 2016 silam Facebook terus diserang karena membiarkan berita palsu menyebar di internet, dan CEO Mark Zuckerberg mendapat kritikan karena gagal untuk memahami peran perusahaannya yang secara tidak langsung menyediakan berita dan informasi kepada pembaca.

Baca juga: FB Mengungguli Snapchat Dengan Game AR Video Messenger nya

Pada bulan Januari perusahaan menarik Campbell Brown yang merupakan mantan penyiar CNN dan NBC untuk bekerja sama dalam mengelola berita, perannya tidak lain adalah untuk membantu dalam menentukan standard konten berita yang layak untuk dibaca oleh para pengguna akun FB.

“saya berharap terjadi peningkatan yang pesat dalam kualitas, dan bisa mengimbangi The New York Time, The Atlantic dan Vox dalam menyediakan pemberitaan yang serius” ujar Rick Edmonds, media business analyst di Poynter.

Hubungan Facebook dengan media tradisional telah memburuk karena pada kenyataannya ditemukan banyak sekali article dan video milik situs berita yang beredar di jaringan Facebook secara gratis dan tidak mungkin untuk mengembalikan pendapatan dan tidak mungkin pula untuk bisa melacak subscriber yang menyaksikan konten video. Pada akhirnya, pada bulan lalu Facebook mengumumkan rencana untuk sebuah paywall yang akan meminta bayarak kepada pengguna untuk menampilkan konten dari sumber tertentu, dan menyediakan 10 article gratis perbulan. “tantangan yang sesungguhnya bukanlah menyaring postingan berita atau mencari index, tetapi untuk mengidentifikasi kepalsuan dari sebuah berita” ungkap Mark Nunnikhoven, Wakil Presiden dari Cloud Research di Trend Micro kepada TechNewsWorld.