5 Cara Virtual Reality Dalam Merevolusi Web 3.0 di Masa Depan

Virtual Reality (VR) akan mentransformasi Web 3.0 menjadi jauh berbeda dari generasi terdahulunya, Web 2.0. Realitas virtual akan memainkan peran besar dalam UX.

Bagaimana cara VR meningkatkan Web 3.0? Dan apa sajakah keuntungannya?

1. Mendefinisikan Kembali Cara Kita Mengalami Dunia

vr web 3.0

Web 3.0 merupakan ekstensi dari Web 2.0, dan kehadirannya telah diantisipasi sejak tahun 2014, tetapi pada tahun-tahun berikutnya, istilah “Web 3.0” hanya digunakan sebagai kata kunci kosong sehingga maknanya mulai tidak jelas. Saat ini, kata kunci ini terus digunakan di mana-mana untuk membangun hype kapan pun ketika diperlukan, tetapi apakah sebenarnya Web 3.0 itu, dan bagaimana realitas virtual berkontribusi terhadap transisinya dari Web 2.0?

Perkembangan dari Web 1.0 ke 2.0 cukup sederhana. Web 1.0 pada dasarnya adalah jumlah dari banyak situs web statis, teks datar atau berbasis gambar yang hampir tidak meninggalkan margin interaksi kepada pengunjung. Web 2.0 memungkinkan orang untuk berinteraksi dan bersosialisasi, berbicara, dan berbagi konten secara bebas. Kolaborasi antara orang-orang dan interaksi sosial adalah elemen inti yang mendefinisikan Web 2.0 daripada teknologinya itu sendiri. Jadi, apakah garis bawah evolusinya menuju Web 3.0?

Untuk mengetahui definisi sesungguyhnya, Web 3.0 harus dapat berinteraksi secara bebas dengan dunia nyata kita. Kecerdasan buatan akan menarik informasi dari perilaku manusia untuk mempersonalisasi pengalaman navigasi, seperti dengan mengoptimalkan hasil mesin pencari. Perangkat Internet of Things (IoT) akan memperluas “persepsi” mesin ke dunia nyata, dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan hampir setiap objek melalui internet (teknologi domotik adalah salah satu contoh utamanya). Kini web sudah dapat “berbicara” dan berinteraksi dengan dunia nyata, oleh karena itu VR diperlukan untuk meningkatkan web hingga terlihat seperti dunia nyata kita. Kita akan belajar berinteraksi dengan web melalui semua indera kita ketika teknologi VR mendefinisikan ulang cara kita mengalami kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya dunia nyata dan dunia online akan bergabung menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan.

2. Transaksi Virtual Berbasis Blockchain

realitas virtual block chain

Hari ini, ketika kita berbelanja di web, kita membeli dan menjual barang dengan berpindah antar halaman (contoh Tokopedia, Bukalapak, Amazon atau situs e-commerce lainnya). Virtualisasi dapat membuat setiap ruang di dunia kita menjadi saluran dinamis yang dapat berinteraksi dengan orang lain. Blockchain dan smart contracts dapat digunakan untuk memprogram setiap sudut kota kita melalui teknologi seperti protokol VERSES yang baru diumumkan untuk interaksi spasial. Misalnya, karena akses ke kamar hotel dapat dibatasi untuk orang yang memiliki kunci, ruang serupa seperti taman kanak-kanak di sekolah swasta dapat menjadi “konten” yang hanya dapat diakses oleh pengguna yang membayarnya.

Protokol-protokol ini dapat digunakan untuk memvirtualisasi setiap transaksi secara virtual, mulai dari pembelian barang fisik hingga digital (seperti e-book atau video game), hingga memperoleh semua jenis layanan. VR dan AR dapat berfungsi sebagai tempat pertemuan untuk ruang fisik dan virtual secara bersamaan. Ketika transisi dari Web 1.0 ke Web 2.0 menghasilkan evolusi toko fisik menjadi e-commerce, virtualisasi Web 3.0 dapat mengarah pada lahirnya generasi baru dari “toko realitas virtual” (v-commerce), sebuah toko modern, yaitu ekonomi berbasis blockchain.

3. Video Game dan MMORPG

game vr web 3.0

Beberapa berpendapat bahwa, Massively Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG) akan menjadi titik awal transisi menuju dunia yang sepenuhnya tervirtualisasi, dan itu mungkin saja benar. Game adalah tempat di mana kita dapat membeli barang dan layanan virtual dengan uang sungguhan, dan menjadi wujud dasar pertama interaksi Web 3.0. Dari apa yang kita lihat sejauh ini, banyak MMOG dan platform game modern mulai menerapkan teknologi virtual yang secara signifikan meningkatkan pengalaman para pemain dan membuatnya jauh lebih mendalam.

Ada banyak rintangan teknologi yang perlu diatasi sebelum kita dapat mencapai virtualisasi dan kenyamanan seperti di film “Ready Player One” atau “Sword Art Online”. VR masih memiliki sejumlah besar kekurangan bahkan dalam antarmuka MMOG yang paling dasar sekalipun, dan Visor VR saat ini masih menyebabkan ketegangan pada mata yang menyebabkan tidak bisanya bermain dalam jangka waktu yang terlalu lama dimana itu sangat mengganggu bagi game MMOG yang kurang asik apabila hanya dimainkan sebentar-sebentar saja. Penskalaan ruangan juga dapat mencegah orang-orang dengan keterbatasan mobilitas untuk sepenuhnya menikmati pengalaman bermain game, dan distribusi haptics yang diperlukan untuk sepenuhnya berinteraksi dengan dunia virtual belumlah merata dan masih sulit untuk didapatkan.

4. Virtualisasi Pengalaman Belanja

vr shopping

V-commerce mungkin masih merupakan teknologi luar biasa yang jauh berada di masa depan, namun seluruh gagasan belanja dapat sepenuhnya direvolusi di dalam Web 3.0 dengan memperkenalkan beberapa elemen dasar virtualisasi. Alih-alih mengubah cara orang berinteraksi dengan ruang fisik seperti yang dijelaskan dalam poin di atas, seluruh web dapat menerapkan konsep dan pengalaman dari MMORPG dan mulai mengisi “dunia virtual” dengan toko-toko, bangunan dan area lainnya.

Di sini konsumen dapat berinteraksi bersama dalam platform “media sosial virtual” baru, berinteraksi dengan produk sebelum membelinya di pusat perbelanjaan virtual, atau menjelajahi properti sebelum membelinya dari agen real estat. Tidak mengherankan bahwa perusahaan besar seperti Alibaba, Amazon dan Ikea sudah mulai berinvestasi dalam teknologi ini.

5. Web 3.0, Masa Depan Seni

vr seni

Virtualisasi akan membuat setiap pengalaman sensorik jauh lebih mendalam, sehingga meningkatkan dampak semua seni. Jika film dapat ditonton melalui headset VR, bayangkan akan jadi seperti apa Netflix atau situs web streaming lainnya di masa depan. Semua konten artistik akan diproduksi (dan dikonsumsi oleh pengguna) dalam format 3D, seperti galeri seni dengan lukisan yang tergantung di dinding dan patung yang dapat Anda sentuh tanpa risiko merusaknya. Di Web 3.0, artis akan membagikan portofolio online mereka dalam format 3D baru yang kini dapat digunakan pada PC, smartphone, atau headset VR generasi selanjutnya.

Baca juga: Mengenal Potensi AR di Media Social Untuk Marketing dan Branding

Kesimpulan

Virtualisasi adalah elemen kunci dari transisi dari Web 2.0 ke 3.0. Revolusi internet berikutnya sudah dekat. Ini akan menjadi kenyataan setelah kita berhasil mengatasi seluruh hambatan yang ada dan melampaui semua batasan teknologi VR.

By |2019-01-08T11:42:27+00:00January 8th, 2019|Articles, Virtual Reality|
%d bloggers like this: