Bicara mengenai marketing sebagai strategi pemasaran untuk mencapai target perusahaan. Maka tidak akan lepas dengan cara yang seringkali dijalankan, yaitu marketing konvensional dan digital marketing. Namun kini, strategi untuk memasarkan produk terus berkembang mengikuti zaman. Termasuk digital marketing yang turut memanfaatkan inovasi teknologi virtual reality. Aktivitas ini sering disebut sebagai kegiatan virtual reality branding.

Kenapa demikian? Sebab, hal tersebut merupakan suatu strategi pemasaran yang sedang tren, setidaknya untuk 10 tahun ke depan masih akan terus relevan. Itulah sebabnya, kini mulai bermunculan perusahaan augmented reality dan virtual reality yang menjawab kebutuhan akan strategi digital marketing menggunakan virtual reality sebagai branding produk suatu perusahaan.

  • Dikutip dari hubspot.com, pendapatan suatu pasar untuk konsumen virtual reality baik konsumen biasa ataupun perusahaan besar, diperkirakan akan menghasilkan pendapatan hingga mencapai 6,71 miliar dolar pada akhir tahun 2022, dan 12,9 miliar dolar pada tahun 2024.
  • Adapun pasar augmented reality, virtual reality, dan pasar mixed reality di seluruh dunia diperkirakan akan turut melonjak lebih dari 220 miliar dolar antara tahun 2021 dan 2028.
  • Pada akhir tahun 2022 ini, diperkirakan untuk penjualan hardware dan software virtual reality akan menghasilkan pendapatan lebih dari 6,4 miliar dolar.
  • Sedangkan pada akhir tahun 2020 lalu, jumlah headset virtual reality yang terjual diperkirakan hingga mencapai 82 juta dolar dan meningkat 1.507% dari total prediksi tahun 2017 sebelumnya.

Dari data di atas, dapat dilihat jika kedepannya untuk bisnis yang memanfaatkan teknologi virtual reality  memiliki prospek yang sangat besar.

Apakah Virtual Reality itu?

Virtual reality adalah teknologi untuk membuat pengguna dapat berinteraksi dengan lingkungan interaktif 3D yang disimulasikan dengan teknologi komputer sehingga pengguna merasa seperti berada di lingkungan yang nyata. Virtual reality dapat terwujud dengan menggunakan headset khusus.

Menggunakan headset virtual reality, maka akan membuat proses visualisasi menjadi lebih nyata dan menyenangkan. Ibarat Anda sedang berada di dalam adegan di dalam sebuah film. Tentu sangat menarik dan memancing imajinasi Anda keluar dari pikiran Anda bukan? Demikian pula virtual reality branding jika diterapkan pada bidang marketing, tentu saja selain demonstrasi dan promosi menjadi lebih menarik lagi, konsumen potensial akan lebih menerima produk yang ditawarkan, ketimbang menghabiskan waktu untuk presentasi dan pembicaraan yang membosankan tanpa peraga canggih virtual reality.

Dunia Metaverse

Apa kaitannya metaverse dengan virtual reality branding? Tentu ada, metaverse adalah penggabungan teknologi augmented reality dan virtual reality di mana untuk terhubung dengan metaverse, harus menggunakan headset virtual reality. Metaverse adalah sebuah dunia virtual di mana seseorang dapat membuat dan berinteraksi dengan pengguna internet lainnya dalam bentuk avatar dirinya sendiri.  Di dalam metaverse, siapapun akan dapat bekerja, bertemu, bermain dengan headset realitas virtual, kacamata augmented reality, atau perangkat lainnya.

Berbagai bisnis di dunia telah membuktikan jika jasa branding produk dengan menggunakan media teknologi virtual reality, telah menaikkan brand image mereka dan meningkatkan brand awareness produk dengan baik dan efisien. Yang mana hal itu berimbas kepada penjualan yang naik secara signifikan. Di bawah ini adalah sembilan kampanye pemasaran virtual reality yang mana mereka menjalankan strategi pemasaran perusahaan dengan virtual reality branding dan beberapa unsur metaverse di dalamnya.

1. Gucci Town

Rumah mode kelas atas Gucci baru-baru ini meluncurkan Gucci Town, dunia virtual dalam metaverse Roblox. Pengguna dapat menjelajahi kota, belajar tentang sejarah rumah, dan terhubung dengan orang lain dalam permainan. Elemen interaktif Gucci Town adalah mini games, pameran seni yang dapat dijelajahi, dan toko Gucci tempat orang dapat membeli pakaian untuk avatar Roblox mereka. Ketika pengguna mengenakan pakaian yang telah mereka beli, maka hal itu akan memicu interaksi dengan orang lain yang ingin tahu mengenai barang-barang unik yang ditawarkan oleh Gucci dan, sebagai hasilnya, terinspirasi untuk mengunjungi dan menemukan apa yang ditawarkan Gucci Town tersebut.

2. MU Weber Product Education

MU (PT Cipta Mortar Utama) Weeber merupakan perusahaan nasional terbesar dan pertama yang memproduksi mortar instan siap pakai (premixed mortar) dengan menggunakan teknologi modern. Di dalam perkembangannya, MU Weeber menjadi salah satu pemain utama untuk mortar dalam industri properti.

MU Weeber menjadi salah satu peserta dalam event Megabuild Expo 2018 di JCC, Jakarta dan menggandeng MonsterAR dalam promosi produk-produk buatan mereka. Adapun kolaborasi antara MonsterAR dan MU Weeber kali ini adalah teknologi aplikasi AR Interaktif yang dapat menampilkan layar dengan tampilan 3D mengenai desain interior dan exterior dari suatu bangunan.

Teknologi berbasis Augmented Reality (AR) ini mempunyai banyak manfaat khususnya untuk marketing dan edukasi melalui augmented / virtual reality branding terhadap calon peminat produk. Selain itu, aplikasi ini dapat membantu bagian marketing di dalam menjelaskan bagaimana setiap detail produk diciptakan, sehingga hal tersebut dapat mengatasi kesulitan yang dialami.

3. Sephora Try-on Kiosk

Retailer produk kecantikan Sephora memiliki toko di mana pengunjung dapat menguji produk rias secara virtual di wajah mereka untuk memastikan mereka puas dengan tampilannya sebelum melakukan pembelian. Toko ini adalah alat pemasaran bernilai tinggi, memberikan pengalaman gabungan yang unik untuk membantu pelanggan mendapatkan hasil maksimal dari kunjungan di toko mereka.

Meskipun Sephora mengizinkan pengujian fisik produknya, tidak semuanya mungkin ingin melakukan, jadi toko hanyalah opsi tambahan saja. Hal ini dapat bermanfaat bagi kepuasan pelanggan, karena orang dapat melihat dengan tepat seperti apa produk yang telah laku terjual dan best seller, serta memastikan mereka membelanjakan uang untuk produk yang paling sesuai dan mereka butuhkan.

4. Wendy’s and VMLY&R: Keeping Fortnite Fresh

Wendy’s menciptakan virtual reality marketing yang menarik di dalam game fortnite’s virtual world. Dengan memanfaatkan gameplay asli yang terkait dengan bisnisnya yakni: daging sapi. Pemain game Fortnite akan mengangkut daging sapi ke freezer di restoran Wendy’s terdekat dan mendapatkan koin ketika mereka berhasil melakukannya.

Untuk menjadikannya pengalaman yang lebih relevan dengan merek, Wendy’s menugaskan agen pemasarannya, VMLY&R, untuk membuat avatar yang menyerupai maskotnya, Wendy. Perusahaan kemudian melakukan streaming di Twitch, di mana audiens dapat menonton avatar Wendy yang baru masuk ke restoran dan menghancurkan freezer.

Selama pemutaran video, penyebutan Wendy di media sosial naik 119%, dan ditonton selama 1,52 juta menit oleh seperempat juta audiens. Audiens juga mulai menghancurkan freezer di dalam permainan mereka, men-tweet tentang pemutaran video, dan berkomentar di papan komentar. Seperti iklan komersial atau asli, tujuan kampanye ini untuk mengingatkan semua orang, jika Wendy’s berupaya menyajikan daging sapi terbaik kepada pelanggannya.

 5. A Tribal Past: Bear River, a Nation: What Can Eeling Teach Us?

Dalam bermitra dengan Oculus, Jessica Cantrell membuat sebuah proyek film 360° dimana anggota suku berbagi cerita tentang kehidupan mereka dan menghubungkan kembali kaum muda di dalam suku mereka dengan sejarah masa lalu di dalam suku.  Hal itu merupakan bentuk penceritaan suatu suku yang memanfaatkan virtual reality yang muncul untuk memasarkan cerita dan untuk membantu anggota komunitas yang terpinggirkan, belajar lebih banyak mengenai sejarah budaya suku mereka.

6. Lowe’s: Holoroom How-To

Demi mengatasi kecemasan pelanggannya yang hendak merenovasi rumah tapi terbentuk budget dan material, Lowe’s yang merupakan perusahaan bidang jasa penjualan bahan bangunan dan renovasi rumah di Amerika Serikat, memutuskan untuk berinovasi meringankan beban dan kecemasan pelanggannya dalam mendesain ulang rumah mereka sesuai dengan bentuk yang diinginkan pelanggan. Hal ini tentu sangat menggembirakan dan membantu pelanggan yang menyukai hasil kreasi sendiri atau DIY (Do It Yourself).

Lowe’s menggunakan inovasi virtual reality untuk memandu dan mengajari pelanggannya secara virtual bagaimana cara merenovasi rumah. Penggunaan headset HTC Vive sebagai perangkat untuk memberikan pengalaman luar biasa ketika mengeluarkan ide-ide kreatif untuk merenovasi rumah sesuai keinginan sendiri, tanpa bimbingan pengajar profesional di bidang properti.

7. Pre Launching OPPO RENO

MonsterAR berkolaborasi bersama produsen smartphone OPPO dalam mengembangkan aplikasi Augmented Reality (AR) yang dibenamkan di dalam smartphone besutan OPPO terbaru yakni series RENO. Hal tersebut dapat ditemui di event pre-launching OPPO RENO yang mendapat antusiasme yang begitu besar dari pengunjung event.

Adapun aplikasi yang dibuat oleh MonsterAR untuk smartphone OPPO diantaranya yang pertama adalah game AR artistik dimana pengguna OPPO RENO diminta untuk mengumpulkan huruf RENO. Setelah terkumpul, pengguna diminta memilih background sesuai keinginan, kemudian hasil karya tersebut bisa disimpan dan jadikan sebagai wallpaper atau dibagikan di media sosial pengguna smartphone tersebut.

Aplikasi AR kedua bertemakan Product Knowledge. Cara penggunaannya dengan menyorot brosur RENO menggunakan kamera AR yang akan menampilkan detail dari bagian-bagian smartphone tersebut lengkap dengan video penjelasan masing-masing. Misal pengguna menyorot kamera RENO, maka akan muncul detail dari spek kamera beserta video keterangannya, atau pengguna menyorot layar RENO yang menggunakan gorilla glass, kemudian akan muncul detail mengenai gorilla glass RENO beserta video.

Dan yang ketiga adalah AR invitation Pre-Launch yang diberikan khusus kepada mereka yang melakukan Pre Order OPPO RENO Series.

Nah, dengan penyediaan aplikasi yang akan ditanamkan di series smartphone besutan OPPO yakni RENO tersebut, akan memanjakan pengguna smartphone demi lebih memaksimalkan penggunaan smartphone di kelas mid-range dan high-end tersebut.

Baca juga: Virtual Reality Jakarta dan Peluang Bisnisnya yang Menguntungkan

8. Boursin: The Sensorium

Merek keju Boursin melakukan teknik marketing dengan virtual reality untuk membawa pelanggannya dalam perjalanan multi-indera melalui sebuah lemari es virtual yang digunakan untuk menjelaskan tentang detail rasa, makanan pelengkap, dan ide-ide resep produknya.

Hal ini ditujukan untuk meningkatkan brand awareness pelanggannya di seantero Inggris untuk setiap pilihan produk dan rasa Boursin yang berbeda.

Sementara itu, pemasangan virtual reality adalah bagian dari kampanye pemasaran produk secara langsung, dimana siapapun akan dapat merasakan pengalaman secara virtual produk mereka melalui video YouTube.

9. Adidas: Delicatessen

Perusahaan merek sepatu Adidas bermitra dengan Somewhere Else, yakni sebuah agensi pemasaran teknologi baru, untuk mengikuti perjalanan mendaki gunung dua atlet ekstrem yang disponsori oleh TERREX (anak usaha dari Adidas). Demi memberikan pengalaman yang menantang dan mendapatkan awareness pelanggannya secara lebih dalam, maka Adidas dan Somewhere Else menggunakan virtual reality branding, dengan merancang pendakian tersebut supaya dapat dirasakan pula oleh pelanggannya dengan menggunakan headset virtual reality sembari memegang remote control sensorik. 

Para pendaki yakni Ben Rueck, dan Delaney Miller merupakan dua pendaki terkenal dan berpengalaman dari Amerika Serikat. Pelanggan yang mengikuti pendakian Rueck dan Miller benar-benar merasakan pengalaman mendaki gunung. Padahal itulah yang dikemas oleh Adidas dan agensi Somewhere Else, supaya masyarakat merasakan dan tidak melupakan pakaian yang dikenakan oleh dua pendaki berpengalaman itu merupakan produk dari TERREX yaitu sebuah lini bisnis Adidas di bidang outdoor apparel & accessories.

10. Toms: Virtual Giving Trip

Toms, sebuah perusahaan sepatu populer, terkenal karena menyumbangkan sepasang sepatu kepada seorang anak yang membutuhkan setiap kali pelanggannya membeli sepatu. Pengembang amal ini menemukan cara baru untuk menginspirasi pelanggannya untuk berbagi yaitu menggunakan headset virtual reality.

Blake Mycoskie, pendiri dan Kepala Amal perusahaan sepatu Toms, menceritakan tentang pengalaman berbagi menggunakan headset virtual reality tersebut sangat menginspirasi. Di mana pengguna akan diajak untuk mengikuti perjalanan perusahaan di negara Peru dan bagaimana perusahaan saat melakukan kegiatan amal pertama kalinya.

Apa yang dilakukan oleh Toms dalam berkampanye untuk beramal dan berbelanja sepatu menggunakan dunia virtual, sangat kreatif dan memberikan suatu pengalaman mendalam dalam hal beramal. 

11. DP World: Caucedo Facilities Tour

DP World adalah perusahaan logistik global yang membantu semua bisnis mengangkut barang ke seluruh dunia. Namun, ketika perusahaan membuka terminal baru, mereka membutuhkan cara untuk menunjukkan kepada pelanggan mereka apa yang ditawarkan oleh DP World.

Tak ketinggalan momentum dan berakhir pelanggannya lari, maka DP World pun menerapkan virtual reality branding sebagai strategi marketing untuk mempromosikan fitur-fitur layanan yang dimiliki dengan menghire agensi pemasaran berpengalaman.

Diketahui jika bisnis logistik perdagangan memang bukanlah sebuah bisnis yang menarik bagi semua orang. Oleh karena itulah, dengan memanfaatkan teknologi virtual reality, DP World telah berhasil menarik peminat bisnisnya menjadi pelanggan, dari menampilkan berbagai penawaran menarik, serta benefit yang akan didapatkan oleh pelanggannya dengan metode 360 di dalam teknologi virtual yang diterapkan.

Virtual Reality Branding Tingkatkan Omzet Bisnis

Banyak bukti yang menunjukkan jika inovasi teknologi, kian hari kian meresahkan banyak pebisnis konvensional. Tak ada cara lain selain mengikuti tren yang ada untuk marketing. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana strategi marketing dengan virtual reality branding ini mampu bertahan dalam beberapa tahun ke depan dan omset perusahaan naik 100 persen atau lebih dari itu.

Meskipun virtual reality masih dipandang terlalu mahal bagi kebanyakan orang. Namun berbanding terbalik dengan pemasaran konvensional yang butuh banyak anggaran pemasaran. Seiring pertumbuhan ekonomi, kini saatnya untuk memanfaatkan inovasi ini untuk melakukan promosi produk dan pengisahan cerita produk Anda secara virtual.

Dan, meskipun Anda mungkin tidak dapat membuat kampanye berbasis virtual reality, Anda dapat mempercayakannya kepada MonsterAR sebagai perusahaan teknologi yang telah berpengalaman mengembangkan teknologi augmented reality dan virtual reality secara immersif, untuk membuat promosi produk dan layanan bisnis Anda menjadi lebih menarik, mendalam dan powerful. Kami juga memproduksi aneka hardware dan mengembangkan software sesuai kebutuhan bisnis Anda.


Pemasaran produk lebih powerful dan efektif melalui teknologi AR dan VR

Hubungi kami sekarang juga, konsultasi GRATIS !


Kunjungi channel Youtube MonsterAR untuk selengkapnya tentang project kami