Biasanya kalau kita mendengar kata tentang “Museum” itu identik dengan tempat untuk memajang benda bersejarah atau patung dan lukisan-lukisan antik bernilai seni yang tinggi. Di negara Jepang tepatnya di kota Tokyo, Koto City ada satu tempat yang unik dan bukan sekadar museum seni biasa melainkan menjadi museum digital.

museum hutan

Museum Digital pertama ada di negara Jepang tersebut dengan menggunakan konsep seperti berada di dalam suatu mimpi, para warga Jepang sangat menikmati semua ilusi kehidupan yang diciptakan dari konsep ini.

Museum Digital yang bernama lengkap Mori Building Digital Art Museum: Epson teamLab Borderless memiliki luas 10,000 meter persegi dan berisikan 50 karya seni. Semua karya seni dirancang dan dihubungkan oleh jaringan kompleks yang terdiri dari 520 komputer serta 470 proyektor berteknologi tinggi. Dipatok dengan harga tiket 3200 yen untuk dewasa dan 1000 yen untuk anak-anak, museum ini mengajak pengunjung untuk mengeksplorasi dunia tanpa batas.

Memasuki ruang museum, pengunjung langsung disambut oleh Universe of Water Particles on a Rock where People Gather. Menampilkan air terjun digital yang besar. Air mengalir dan burung-burung berkicau sambil lalu. Bunga-bunga bermekaran sesuai dengan musim. Terkadang musim panas, terkadang musim semi. Tidak konstan tapi tampak nyata.

museum air terjun

Di ruang lainMemory of Topography akan menghipnotis pengunjung dengan ilusi suasana pedesaan Jepang. Cermin-cermin saling berhadapan menghasilkan proyeksi teratai hijau, dandelion, dan kunang-kunang yang tidak terbatas. Semuanya ditampilkan dalam presisi tinggi.

museum digital jepang

Di lantai atas, tersedia area yang memacu saraf motorik pengunjung. Seperti arena Athletic Forest, area interaktif yang menggabungkan permainan dan efek-efek visual digital.  Berloncat-loncatan di atas trampoline sembari meraih galaksi atau malah berloncatan di antara gugusan bintang. Area ini mendorong partisipasi para pengunjung. Selain itu, Athletic Forest sangat dianjurkan untuk anak-anak karena memang dirancang untuk mendorong perkembangan hippocampus otak dan kapasitas neurologis anak.

museum digital athletic forest

TeamLab sendiri menjadi pelopor di bidang ini sejak didirikan oleh beberapa orang di Universitas Tokyo pada tahun 2001. Museum baru ini adalah yang pertama dari ukuran dan skalanya di dunia dan dirancang oleh “ahli teknologi” yang dideskripsikan sendiri—termasuk desainer, ilmuwan komputer, insinyur, dan programer.

TeamLab mengusung aliran “ultra-teknologi” sebagai medium berekspresi.  Karya-karya mereka menjadi koleksi dari berbagai museum atau galeri besar, seperti: Pace Art Gallery, National Gallery Singapore, National Gallery of Victoria, dsb. TeamLab juga pernah berpameran Learn&Play! teamLab Future Park di Plaza Indonesia pada 2017 silam. Melalui seni digital, teamLab berusaha untuk memperluas domain seni, menciptakan eksistensi kesenian yang lebih bebas, dan mengaburkan batas-batas realita.

Oh iya di sini Karya seni yang ditampilkan pun membutuhkan partisipasi dari pengunjung. Entah itu sekedar sentuhan atau gerakan melompat. Gerakan-gerakan tersebut akan mempengaruhi penampakan visual ataupun suara digital.


Program Gerakan Digitalisasi Museum dari MonsterAR untuk seluruh museum di Indonesia

|  1. Free Konsultasi  |  2. Free Konsep Design  |  3. Free Estimasi Biaya (RAB)  |

Hubungi kami sekarang juga, konsultasi GRATIS !


Lewat kehadiran Mori Building Digital Art Museum, potensi seni digital untuk semakin populer kian terasa. Seni digital tidak semata-mata menampilkan estetika visual yang imersif, namun juga partisipasi pengunjung untuk mengeksplorasi dan mencipta karya seni itu sendiri. Hasilnya, karya seni menjadi sesuatu yang lebih dari objek pandangan: lebih hidup dan cair.

Baca juga: Potensi Museum Multimedia Dalam Meningkatkan Jumlah Pengunjung Hingga Berkali-kali Lipat

Sekiranya, museum ini mampu menawarkan terobosan dan kesegaran di bidang seni. Tidak hanya terpaku pada domain-domain lama dengan aturan-aturan teori yang mesti dipenuhi.  Namun seni dilepaskan ke yang lebih bebas. Seni digital sebagai new media art niscaya dapat menjadi jembatan antara seni, ekspresi, dan perubahan zaman.