Pemanfaatan metaverse dalam pendidikan dan riset serta berbagai keperluan lainnya telah nyata meningkat. Meskipun diakui, belum semua orang menyadari akan pentingnya teknologi ini dalam pengembangan dunia biologi, salah satunya biodiversitas.

Hal tersebut disampaikan Wiryanatha Wijaya CEO MonsterAR, perusahaan teknologi informasi pada Seminar Nasional Biologi Tropika ke-6 dengan tajuk Masa Depan Biodiversitas Indonesia di Era Metaverse, di kampus Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), pada  Sabtu, 23 Juli 2022.

Seminar nasional yang digelar secara hybrid ini dibuka oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. Dengan narasumber Prof. Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., Dekan Fakultas Biologi, Universitas UGM, Stephen Ng, CEO Metaverse Indonesia, dan Wiryanatha Wijaya, S.Kom. Founder & CEO MonsterAR.

Dikemukakan oleh Wirya, jika dalam dunia edukasi dan riset, teknologi Augmented Reality (AR) dan teknologi Virtual Reality (VR) sebagai cikal-bakal metaverse telah ramai digunakan oleh berbagai kalangan usaha.

Metaverse sendiri merupakan sebuah dunia virtual dengan banyak elemen yang saling berkaitan dan merupakan media untuk berinteraksi dengan siapapun pengguna dan dari manapun berada melalui media headset VR.

Selain pemanfaatan metaverse dalam pendidikan, dapat dilakukan juga dari sisi industri dan ilmu pengetahuan dimana ini merupakan cara baru untuk berkolaborasi secara virtual. Di samping itu, benefit yang didapatkan pun tidak terbayangkan oleh siapapun. Mengapa demikian? Karena metaverse dapat mengembangkan imajinasi, bahkan dapat dipergunakan untuk traveling ke mana saja melalui virtual tour.

metaverse dalam pendidikan

Baca juga: Virtual Reality Jakarta dan Peluang Bisnisnya yang Menguntungkan

Contoh pemanfaatan metaverse dalam bidang pariwisata, yakni orang tidak perlu menghabiskan budget yang besar hanya untuk berkeliling dunia. Dengan metaverse, penggemar traveling dapat berkunjung ke tempat-tempat yang disukai ke seluruh dunia dengan melalui metaverse, tanpa khawatir takut penerbangan yang terhambat, tidak punya visa, dan lain sebagainya.

Dengan metaverse, skill dan literasi akan dapat ditingkatkan secara mudah. Ini membuka peluang-peluang baru lainnya yang tidak terlintas di pikiran Anda. Di beberapa Lembaga pengembangan skill, teknologi metaverse telah digunakan sebagai media untuk mendukung pengembangan hard skill dan soft skill, melalui alat AR dan VR.

Rekayasa molekuler dan protein telah memanfaatkan teknologi AR dan VR, sebagai bidang edukasi dan riset academia. Sebab, metaverse dapat meminimalisir biaya-biaya yang pada kegiatan konvensional membutuhkan biaya yang banyak untuk melakukannya.

Wirya mencontohkan, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dan machine learning sebagai bagian dari elemen metaverse yang juga telah dimanfaatkan untuk pengujian dan produksi obat di dalam bidang farmasi. Sementara itu teknologi blockchain yang transparan dan desentralisasi, dapat dimanfaatkan untuk verifikasi data guna memastikan suatu informasi di dalam riset menjadi data yang valid.

Metaverse bahkan dapat meningkatkan literasi dan skill seseorang untuk bertemu orang baru. Sehingga tak perlu lagi merasa malu, sebab fungsi pengembangan skill di metaverse untuk kaum introvert dan pemalu juga tersedia.

Sementara itu dari sisi ekonomi dan bisnis, metaverse diprediksi akan mempunyai nilai ekonomi sangat besar hingga 800 miliar USD dan mencakup 10 industri 10 persen dari total nilai Gross Domestic Product (GDP) dunia. Pungkas Wirya menutup seminar.


Metaverse & NFT, industri senilai triliunan dollar dengan peluang keuntungan tak terbatas

Hubungi kami sekarang juga, konsultasi GRATIS !


Kunjungi channel Youtube MonsterAR untuk selengkapnya tentang project kami