AR live show memperoleh momentum tepat ketika wabah COVID-19 menghantam dunia event organizer di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun jauh sebelum pandemi terjadi, pemakaian teknologi Augmented Reality sudah mulai terbentuk dan dipakai.

Akar dari lahirnya teknologi ini bermula dari “interupsi” smartphone saat orang menonton konser. Kedekatan emosional antara penonton dengan penyanyi menjadi kurang dalam sebab smartphone mengalihkan fokus dari artis itu sendiri. Terdapat sejumlah penonton yang menjadi lebih fokus mengambil foto atau video ketimbang menikmati sajian suara atau improvisasi dari sang artis.

Menyadari tren tersebut tidak akan berkurang dalam waktu dekat, MonsterAR menggarap AR live show untuk menawarkan pengalaman baru ke penonton. Pada 2017, AR sudah banyak dipakai dalam filter AR Snapchat dan sejenisnya. Dalam dunia seni, Jeff Koons dan lainnya telah menggunakan teknologi AR untuk menempatkan patung virtual dalam bangunan di perkotaan.

AR Live Show dalam Konser The Experience + Innocence 2018

Pada saat itu, U2 tengah merencanakan tur Experience + Innocence untuk 2018. Tur ini menggunakan layar LED bersisi ganda sangat besar yang diletakkan memanjang ke bawah arena. Teknik ini paling pas untuk memicu pengalaman AR yang tidak terlupakan.

Akan tetapi, selama 2017, U2 melakukan tur yang lain yakni tur peringatan Joshua Tree ke stadion di Eropa. Salah satu kelebihan mempunyai klien yang sering melakukan tur adalah jaminan keberadaan mereka pada momen tertentu. Sehingga, dalam beberapa pekan, pihak agensi menuliskan beragam ide dan banyak bersinggungan dengan anggota band U2 dalam prosesnya.

U2 baru saja merampungkan rekaman album Songs of Experience yang menjadi dasar tur pada tahun berikutnya. Lagu pembuka, Love is All We Have Left, merupakan lagu orkestra yang terdengar tepat untuk menjadi bahan percobaan AR live show. Lagu ini menjadi fokus penggarapan untuk bahan pembukanya.

Kekurangannya, meski mengetahui lokasi anggota band U2, tetaplah sulit menemukan waktu untuk mengambil gambar mereka. Waktu yang tersedia begitu pendek. Tetapi mereka berhasil mengambil gambar selama lima menit, yang cukup bagi Bono melakukan lipsyncing untuk Love is All We Have Left.

The Experience + Innocence merupakan sekuel dari Innocence + Experience pada 2015. Inti dari tur ini adalah menggambarkan perjalanan tumbuh anggota band ini di Dublin pada 1970an. Hal yang menjadi poin penting adalah ketika Bono menjalani pengalaman yang membuatnya hampir meninggal dunia. Saat itu, dia sedang bersepeda di Central Park dengan kecepatan tinggi lalu jatuh. Kakinya tersandung batu besar. Kejadian ini sangat mempengaruhi lagu-lagu mereka selanjutnya dimana terdapat lirik yang menggambarkan pengalaman sekarat.

Judul album tersebut dipinjam dari puisi William Blake, Songs of Innocence and of Experience. Mereka pun mulai menemukan visual menarik tentang manusia yang mulai meninggalkan raganya. Ini kemudian menjadi konsep dasar dalam AR live show. Proposal pun menjelaskan rincian AR live show ini. Layar LED akan terbuka, bagian atas secara vertikal akan terangkat dari bawah untuk memunculkan Bono.

Untuk menekankan hubungan dengan Blake, ide awal adalah Bono akan terbaring lalu menyanyikan Love is All We Have Left. Di atasnya, akan muncul avatar ruh, arwahnya, yang memenuhi arena konser sambil berduet dengan lirik lagu ini. Untuk menciptakan suasana seperti itu, avatar tersebut haruslah “bernyanyi” dalam lipsync dengan vokal secara langsung dan terus tersinkron dengan berbagai jenis smartphone dan perangkat lainnya.

Mereka mengerjakan rekaman avatar tersebut. Caranya adalah dengan membuat klip video tersendiri dengan menggunakan tangkapan 3D bergerak dari Amsterdam, Belanda. Bekerjasama dengan Simon Russell, mereka memproduksi rangkaian arwah Bono sedang bernyanyi, yang muncul dari cahaya di balik gemerlap debu bintang dan secara singkat berubah menjadi daging sebelum membusuk lalu kembali menjadi debu bintang. Selain menjadi sarana latihan teknis yang bagus, hal tersebut sangat membantu memahami karakter avatar tersebut, membangun narasi dan meneguhkan rencana tur memakai AR ini.

Baca juga: Buku Augmented Reality, Tingkatkan Minat Baca Anak Generasi Z

Sementara itu, versi aplikasi AR terus dikembangkan. Sebagai gambar pemicu, mereka memilih tekstur kapur abstrak hitam dan putih. Ide ini terbukti sangat memukau ketika animasi hidup dimana saja aplikasi menangkap tekstur ini. Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah sinkronisasi audio. Pengerjaan ini memakan waktu sekitar sebulan.

Pada setiap hari saat konser, saat pintu dibuka, penonton diperbolehkan memasuki arena. Mereka langsung menemukan layar LED diturunkan ke panggung sehingga membagi lantai arena menjadi dua bagian. Gambar kapur di atas membuka AR live show sebagai bagian dari tur ini. Saat melihat melalui aplikasi tersebut, seluruh layar LED menjadi gunung es raksasa yang memenuhi ruang hampa di pusat arena itu. Sisi atas dan di sekitar arena menjadi bersalju dan terkadang, arwah abstrak melintasi ruangan ini.

Memang hanya sedikit penonton yang datang ke tur dengan aplikasi AR tersebut tetapi pengalaman mereka akan menyebar dengan sendirinya. Yang mengejutkan adalah dari sedikit persentase penonton tersebut, mereka menikmati sajian AR live show selama periode pra konser. Kemudian, mereka menyebarkan pengalaman mereka sendiri ke yang lain.

Gunung es tersebut berdiri selama 45 menit sebelum konser dimulai, dan secara perlahan, suhu meningkat sehingga gunung es mulai mencair. Air terjun kecil muncul di tengah arena yang perlahan menjadi semburan deras. Salju yang menutupi layar tersebut meleleh dan air mulai memenuhi lantai arena tersebut. Dari kursi di atas “garis air”, penonton dapat melihat penonton yang berdiri terbenam dalam pengalaman ini semua, bahkan penonton pada lantai arena merasakan pengalaman berada di bawah air. Pada akhirnya, pusaran air muncul di dalam air, berputar-putar dengan objek yang akan muncul lagi dalam rangkaian video berikutnya di konser tersebut.

AR live show tersebut justru berubah menjadi pertunjukan fenomenal. Kuncinya adalah ketika waktu konser, siapa saja yang tertarik dengan AR benar-benar memahami bagaimana teknologi ini bekerja dan apa yang bisa dilakukan dengan teknologi ini. Tanpa perlu instruksi yang membosankan, audiens sudah siap menikmati konser.

Selama latihan, kami menyempurnakan penampilan band ini. Pada akhirnya, gerakan Bono berbaring sebagai pembuka konser terbukti absurd sehingga mereka lebih memilih postur vertikal. Sama saja, cara tersebut masih sangatlah kurang efektif untuk membuka konser. Energi antisipasi penonton menjadi salah satu senjata terampuh sehingga untuk secara efektif menghabiskannya adalah dengan membuka konser dengan momen kecil tetapi dilakukan dengan penuh kepercayaan diri.

Love is All We Have Left menjadi semacam prolog. Dari kacamata sutradara, sangat memuaskan melakukan hal yang benar-benar baru membuka acara. Teknologi AR juga terbukti berhasil sebab meski sangat rumit, efeknya tergolong mulus dan memang dirancang untuk menyemarakkan nuansa penonton yang diprediksi sunyi. Jika dibuat berlebihan dan audiens mengharapkan tontonan besar, momen malah akan menjadi kurang signifikan.

Dalam AR live show tersebut, aplikasi AR di sini mencakup fitur agar pengguna bisa memotret layar dan merekam momennya. Yang perlu dibagikan di sini lainnya adalah Bono yang menginginkan adanya Mr. MacPhisto. Ia adalah alter ego bersifat setan dari dirinya pada awal 1990an. Bono pun menggunakan kostum dan tata rias untuk menciptakan karakter ini.

Walau melibatkan level kerumitan tingkat tinggi dalam AR, pada akhirnya eksperimen ini berhasil melahirkan hubungan emosional dengan karakter tersebut yang muncul dari antah berantah.

Menggabungkan teknologi AR ke dalam konser seperti U2 di atas merupakan kerja monumental dan kami MonsterAR siap menyambut artis mana saja yang terbuka dengan ide revolusioner merengkuh kembali emosi penggemar tanpa mencemaskan lepasnya hubungan tersebut oleh smartphone.

Pemasaran produk lebih powerful dan efektif melalui teknologi AR dan VR

Hubungi kami sekarang juga, konsultasi GRATIS !

Kunjungi channel Youtube MonsterAR untuk selengkapnya tentang project kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *