2018 adalah tahun keemasan bagi Augmented Reality (AR), sekelompok besar retailer yang berinvestasi dalam e-commerce AR untuk menciptakan pengalaman berbelanja fisik sekaligus digital tentu merupakan salah satu faktor penyebabnya. Hasil awalnya sangatlah fenomenal. Platform desain interior, Houzz, melaporkan bahwa konsumen yang berbelanja produk menggunakan AR memiliki peluang 11 kali lebih tinggi untuk membeli dan menghabiskan waktu 2,7 kali lebih banyak di aplikasi Houzz.

Pendorong utama pertumbuhan ini adalah kemajuan teknis yang membuat AR lebih mudah diimplementasikan dan dikelola. Rilis iOs 12 terbaru dari Apple secara khusus menawarkan AR dengan kualitas yang jauh lebih tinggi di browser. Dengan lebih dari 50% pengguna iPhone sudah menjalankan OS terbaru, ini telah mempengaruhi pengalaman berbelanja seluler.

Tetapi faktor terbesar yang mendorong adopsi ini adalah pembeli. Konsumen tidak hanya menyukai AR, mereka menginginkan pengalaman berbelanja yang mendalam, mereka menginginkan pengalaman yang konsisten  antara web dan seluler.

Inisiatif AR yang sukses membutuhkan kemampuan untuk membuat, mengelola, dan mengintegrasikan aset 3D pada skala tertentu.

verterbrae augmented reality

Survei konsumen Vertebrae baru-baru ini menemukan bahwa 78% orang yang pernah menggunakan e-commerce AR secara aktif lebih suka pengalaman virtual ini dibanding konten video. Ketika diminta untuk membuat pengalaman AR yang ideal, lebih dari setengah (57%) menyatakan bahwa mereka ingin menempatkan barang yang mereka pertimbangkan untuk dibeli di lingkungan mereka sendiri. Ini merupakan respons tunggal paling populer, melampaui game AR (45%) dan filter, lensa, dan efek Snapchat (32%).

Jika Anda menambahkan fakta bahwa konsumen AR biasanya adalah generasi Millenial dengan penghasilan lebih tinggi, AR harus langsung dijadikan prioritas bagi semua ritel yang perlu terhubung dengan generasi pembeli yang sedang naik daun ini. Tetapi sebagian besar penjual masih mempelajari polanya. Hanya 1 dari 10 merek yang mengatakan mereka sudah mengintegrasikan AR ke dalam upaya pemasaran mereka, menurut data terbaru dari Boston Consulting Group; 45% lainnya mengatakan bahwa mereka sedang dalam mode eksperimental, dan 35% mengatakan bahwa mereka memiliki rencana untuk menggunakannya di masa depan.

Menurut penelitian dari Mindshare yang dilaporkan oleh Econsultancy, 55% konsumen “ingin dapat mengarahkan ponsel mereka ke objek apa pun dan menerima informasi tentangnya.” Dan ketika survey ini dipersempit hanya bagi yang pernah merasakan pengalaman augmented reality saja, jumlahnya meningkat menjadi 74%.

3 Faktor yang Menentukan Kesuksesan Dalam Strategi E-commerce AR

Faktor apa sajakah yang dapat membuat strategi augmented reality berhasil? Berikut adalah 3 cara perusahaan menggunakan augmented reality untuk menarik dan meningkatkan pengalaman pelanggan:

1. Membawa Kemanusiaan ke IoT
Prediksi para ahli mengatakan bahwa pasar IoT akan berlipat ganda pada tahun 2021, yang berarti bahwa konsumen akan berinteraksi dengan perangkat secara hampir berkelanjutan. AR dapat membantu meningkatkan pengalaman, untuk komunikasi yang lebih mulus antara pikiran manusia, sistem, dan data yang dihasilkan produk IoT.

Sebagai salah satu contoh, dalam industri layanan lapangan, IoT sedang merevolusi kemampuan pekerja mobile dalam hal kecepatan, visibilitas, dan harapan pelanggan. Dengan menggabungkan IoT dengan wearable teknologi yang ditingkatkan dengan kemampuan AR, akan membuka pintu untuk diagnosa permasalahan yang lebih mudah oleh karyawan mobile, dan di masa depan bahkan dapat memungkinkan pelanggan untuk mendiagnosis dan memperbaiki masalah terkait layanan mereka sendiri.

Teknologi ini meningkatkan pengalaman pelanggan dengan mempermudah pekerja untuk memberikan bantuan jarak jauh, mencegah kesalahan, dan membuat keputusan yang lebih tepat.

2. Memberikan Kepercayaan Kepada Pelanggan
Keragu-raguan pelanggan adalah faktor yang menyebabkan terhentinya transaksi. Pembeli ingin kepastian akan produk yang akan mereka beli. Tetapi seringkali sulit untuk memastikan apakah barang yang dibeli akan sesuai dengan ekspektasi.

Sephora menggunakan E-commerce AR untuk mengatasi tantangan tersebut. Perusahaan ini telah menciptakan aplikasi virtual artist yang disebut ModiFace, yang membantu pembeli melihat bagaimana produk makeup akan terlihat. Ini adalah pendekatan mencoba sebelum membeli yang dapat dilakukan dari manapun dan kapanpun, pelanggan dapat mencoba produk tanpa perlu mengunjungi toko Sephora.

Baca juga: 5 Manfaat Digital Signage Bagi Bisnis Anda, Mulai Dari Branding Hingga Meningkatkan Omzet Puluhan Kali Lipat

3. Mengajarkan Keterampilan Baru
Merek memainkan peran yang kuat dalam masyarakat: konsumen mengandalkan produk yang mereka beli untuk mencapai tujuan hidup mereka. Ambil contoh dari anak-anak di sekolah. Karena anak-anak membutuhkan serangkaian persediaan agar berhasil di bidang akademis mereka, merek perlengkapan sekolah berupaya memastikan bahwa mereka memenuhi kepentingan terbaik pembeli mereka.

Itulah sebabnya merek stasioner BIC menciptakan aplikasi buku mewarnai augmented reality untuk anak-anak. Tujuan merek adalah memberi anak-anak alternatif untuk aplikasi game. Perusahaan mempekerjakan seorang penulis anak-anak untuk membuat konsep, sementara juga membawa efek khusus. Anak-anak dapat menciptakan seni masa depan mereka sendiri yang unik.

Augmented Reality adalah media yang dapat menyatukan pengalaman berbelanja fisik dan digital. Hasil akhirnya termasuk perjalanan pelanggan yang lebih lancar, mengurangi ketegangan pada bisnis, dan pengalaman membeli yang lebih kohesif. Dan yang terpenting: konsumen menginginkannya.

Untuk tetap sejalan dengan konsumen, retailer jelas perlu mempercepat adopsi AR. Tetapi tidak semua pengalaman diciptakan sama. Ritel harus mempertimbangkan dua hal yang paling penting jika mereka ingin memastikan AR menjadi alat bisnis, bukan hanya sekedar gimik.

Pertama dan terpenting, para profesional industri menunjukkan kelangkaan konten berkualitas sebagai salah satu hambatan terbesar untuk adopsi AR yang lebih luas. Inisiatif AR yang berhasil membutuhkan kemampuan untuk membuat, mengelola, dan mengintegrasikan aset 3D pada skala tertentu. Namun, pemodelan 3D dasar berada di luar keahlian tim kreatif dan desain in-house tradisional, dan para 3D artist berbakat lebih cenderung untuk menggunakan bakatnya di Hollywood dan Negeri tetangga seperti Malaysia.


Ingin turut menguasai pasar online dengan teknologi Augmented Reality?

Hubungi kami sekarang juga, konsultasi GRATIS !


Bahkan di tangan programmer berpengalaman sekalipun, proses pembuatan AR terbilang lambat, manual, dan memakan waktu cukup lama, dan AR pada umumnya terbatas pada beberapa produk tertentu. Tetapi kini telah muncul alat dan platform yang mempermudah konversi produk dan aset menjadi 3D, sehingga pedagang tidak lagi membutuhkan sumber daya teknis khusus untuk mengaplikasikan e-commerce AR. Pendekatan terbaru ini, mirip dengan efek Scene7 di rich media, berjanji untuk menempatkan media imersif di tangan setiap penjual dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Kedua, seiring bertambahnya adopsi AR, begitu juga harapan agar AR bermanfaat dan tidak hanya keren. Dua pertiga konsumen mengatakan bahwa mereka menginginkan aplikasi AR untuk membantu mereka menjelajahi tempat yang mereka kunjungi atau mempelajari keterampilan baru, dan 58% mengatakan mereka menginginkan akses ke manual produk AR. Demikian pula, seperti yang disebutkan di atas, 57% responden survei Vertebrae mengatakan mereka ingin AR membantu memvisualisasikan bagaimana produk akan terlihat di lingkungan mereka.

AR Pada Halaman Produk

Jika mereka ingin menciptakan pengalaman berbelanja yang bermakna, penjual harus mendorong AR di luar kampanye branding. Integrasi yang ketat dengan tampilan halaman produk e-commerce, input visual dan output AR untuk pencarian di tempat, dan konektor untuk pemesanan satu sentuhan merupakan salah satu fitur yang harus dicari pedagang dari mitra pengembangan AR potensial.

Penjual juga harus mempertimbangkan untuk menggunakan AR berbasis web, yang dapat membawa 3D ke web atau situs seluler apa pun yang ada — tidak diperlukan aplikasi. Pendekatan ini memungkinkan penjual untuk dengan mudah mengintegrasikan AR langsung ke halaman produk di mana pelanggan mereka sudah meneliti dan membeli, menambah tingkat kepercayaan dan kepuasan konsumen baru.

Meskipun masih belia, augmented reality memiliki potensi untuk menghilangkan hambatan antara pengalaman online dan offline dan memenuhi permintaan konsumen akan alat belanja yang interaktif. Untuk mewujudkan potensi tersebut, pedagang harus mengatasi tantangan pengadopsian di awal untuk menciptakan aplikasi yang bermakna, yang dioptimalkan untuk penjualan.